Saturday, 6 July 2013

Tokoh Inspirasi I Jenderal Sun Tzu




Sun Tzu adalah pakar intelejen militer perang strategy kenamaan dari daratan China sekitar tahun 2500 SM, sebagai salah satu Jenderal tertangguh dia adalah Jenderal yang pandai menterjemahkan siasat perang. Sun Tzu juga penulis buku "The Art Of War", yang merupakan buku panduan perang dan strategy penyergapan yang sampai sekarang dipelajari diseluruh dunia. Ungkapan Sun Tzu yang paling terkenal adalah "Kenallah lawanmu, dan kenallah dirimu sendiri, maka dalam 100 pertempuran pun kemenanganmu tidak akan dalam bahaya". Sun Tzu lebih menitik beratkan strategy perang daripada adu fisik, dengan kemampuan strategy perangnya tersebut, pasukan dibawah komando nya bisa menjadi lebih kuat dengan jumlah kemenangan setiap pertempurannya. Kemampuannya dalam mengatur strategy inilah yang menjadi panduan oleh seluruh penjuru dunia untuk dipelajari.

“Know the enemy and know thyself,
find naught in fear for a hundred battles.
Know thyself but not the enemy,
find level of loss and victory.
Know the enemy but not thyself,
wallow in defeat every time.”


“Know the enemy !” adalah salah satu frase yang paling banyak dikutip, baik dalam seminar bisnis maupun brainstorming operasi militer. Frase diatas ditulis oleh Jendral Sun Tzu, seorang genius dalam strategi militer hampir 24 abad yang silam, seperti tertulis di gatra (verse) terakhir, pupuh (chapter) ketiga dari buku “The Art of War” [Sun Tzu, 400-320 BC]

Satu-satunya sumber mengenai kehidupan Sun Zi yang masih tersisa adalah biografi yang ditulis pada abad ke-2 SM oleh ahli sejarah Sima Qian, yang mendeskripsikannya sebagai jendral yang hidup di negara Wu pada abad ke-6 SM. Namun, biografi ini tidak konsisten dengan sumber-sumber yang lain tentang periode tersebut, dan bentuk dan konteksnya mengindikasikan bahwa biografi ini kemungkinan besar ditulis antara 400 SM dan 320 SM.

Karya Sun Zi sendiri, Sun Zi Bingfa, tampaknya memuat beberapa petunjuk langsung tentang kehidupannya. Contohnya, kereta perang yang dijelaskan Sun Zi digunakan dalam periode yang relatif singkat, yang berakhir pada abad ke-4 SM, yang berarti sebagian buku ini ditulis pada periode tersebut. Beberapa orang ahli menyimpulkan bahwa tulisan Sun Zi sebenarnya digarap oleh beberapa orang filsuf China yang tidak diketahui dan bahwa Sun Zi sebenarnya tidak ada dalam sejarah. Ini dapat dilihat lebih jauh dalam kenyataan bahwa kesejarahan Sun Zi dibahas panjang-lebar dalam kata pengantar untuk terjemahan Giles pada 1910. Giles mengemukakan perasaan ragu dan kebingungan yang melingkupi topik ini.

Pada tahun 1972, satu set teks ditemukan di kuburan dekat Linyi di Shandong. Ini telah membantu mengonfirmasi teks yang telah diketahui sebelumnya, dan juga menambah bab-bab baru dalam buku taktik militer ini. Teks tersebut diperkirakan ditulis antara 134 SM-118 SM , sehingga meruntuhkan teori lama yang menyatakan bahwa sebagian buku ini ditulis lebih belakangan. Sebelumnya dipercaya bahwa buku ini ditulis pada abad 6 SM.

Sun Pin, keturunan Sun Zi, juga menulis teks yang berjudul Art of War, walaupun mungkin judul yang lebih cocok adalah Art of Warfare (Seni Peperangan) karena lebih membahas sisi praktis peperangan . Sedikitnya satu penerjemah menjudulinya The Lost Art of War atau Seni Perang yang Hilang, karena buku ini, dalam waktu yang lama, memang hilang. Buku ini baru mulai ditemukan lagi erabad abad sesudahnya.

Sun Zi Bingfa, atau dikenal pula sebagai Sun Tzu Art of War, adalah sebuah buku filsafat militer yang diperkirakan ditulis pada abad ke-2 SM oleh Sun Zi. Terdiri dari 13 bab di mana setiap bagian membahas strategi dan berbagai metode perang. Karya ini merupakan karya tulis militer Tiongkok yang paling dihormati dan paling terkenal di luar negeri Tiongkok. Siapa yang menulis buku ini sampai sekarang masih diperdebatkan oleh para pakar sejarah. Beberapa ahli berpendapat bahwa Sun Zi bukanlah nama asli penulis buku ini, melainkan julukan yang diberikan orang kepada penulis tersebut. Sebab, kata "Zi" pada nama Sun Zi sebenarnya digunakan untuk mengacu pada seorang filsuf sehingga Sun Zi diartikan sebagai "filsuf Sun”.

Buku ini juga menjadi salah satu buku strategi militer tertua di dunia dan banyak memberikan pengaruh dalam perencanaan strategi militer baik Dunia Timur maupun Barat, taktik bisnis, dan banyak lagi. Buku yang ditulis sekitar tahun 400—320 SM ini pertama kali diperkenalkan di Jepang pada tahun 716—735 M. Sementara itu, di Eropa, buku ini diperkenalkan oleh Jean Joseph Marie Amiot, yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Perancis. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Kapten E. F. Calthrop, seorang kapten berkebangsaan Inggris.

Kutipan Beberapa ayat dalam buku ini acapkali dikutip dan digunakan sebagai kata mutiara, misalnya beberapa ayat terakhir dari bab 3:

Jadi di sini dikatakan: Ia yang mengenal pihak lain (musuh) dan mengenal dirinya sendiri, tidak akan dikalahkan dalam seratus pertempuran. Ia yang tidak mengenal pihak lain (musuh) tetapi mengenal dirinya sendiri memiliki suatu peluang yang seimbang untuk menang atau kalah. Ia yang tidak mengenal pihak lain (musuh) dan dirinya sendiri cenderung kalah dalam setiap pertempuran. 

Yang juga sering disingkat sebagai:

“Jika Anda mengenal diri dan musuh Anda, Anda tidak akan kalah dalam seratus pertempuran”
Aplikasi militer dari buku perang ini misalnya pada semasa era Sengoku di Jepang, seorang daimyo bernama Takeda Shingen (1521-1573) mampu memenangkan banyak pertempuran tanpa menggunakan senjata api karena ia telah mempelajari Sun Zi Bingfa. Buku ini bahkan memberinya inspirasi untuk aturan pertempuran "Fūrinkazan" yang dibuatnya (Air, Hutan, Api, dan Gunung; berarti: secepat angin, sesunyi hutan, seganas api, dan sekokoh gunung). Semasa Perang Vietnam, beberapa perwira Vietkong memperlajari Sun Zi Bingfa, dan dilaporkan dapat mengulang kembali seluruh kata dalam buku tanpa membacanya.

Strategi Sun Tzu digunakan oleh Genghis Khan di abad ke 13 dalam menaklukkan wilayah kekuasaannya mulai dari Mongol, China, Siberia hingga mendekati Eropa. Napoleon di masa muda membaca dan mempelajari buku itu dari para rahib Jesuit yang menterjemahkannya dari bahasa China di tahun 1782. Cara berpikir dan bertindak Mao Tse Tung juga sangat dipengaruhi strategi Sun Tzu, seperti terlihat dalam buku Merah Mao. Hitler juga mempelajari strategi Sun Tzu, dan menggunakannya saat merebut Polandia dalam operasi ‘Blitzkrieg’ yang berlangsung2 minggu. Di tahun 1991, dalam operasi Desert Storm dan Desert Shield di kawasan Teluk, setiap anggota Marinir Amerika memiliki dan mempelajari buku strategi perang Sun Tzu. Strategi itu terbukti tetap relevan walau telah melewati rentang waktu 25 abad

Salah satuh kisah yang terkenal dari seorang Jendral Sun Tzu adalah :

Dalam buku 'Sun-Tzu The Art of Warefare' terbitan Karisma 2008, diceritakan pasukan elite di kerajaan itu dibentuk untuk melindungi sang raja. Hebatnya, pasukan elite itu terdiri dari personel wanita yang tak lain merupakan selir sang raja.

Saat itu, hidup seorang ahli strategi militer dan perang yang hingga kini namanya masih diingat dunia yakni Sun Tzu. Kemasyuran strategi perang yang dimiliki Sun Tzu terdengar sampai ke telinga raja Wu.

Sang raja lantas memanggil Sun Tzu ke istananya. Dia menantang keahlian militer Sun Tzu dengan menjadikan 180 selirnya menjadi pasukan tangguh yang bertugas melindungi raja.

Sun Tzu lantas menerima tantangan sang raja. Dia membagi 180 selir raja menjadi dua kelompok barisan. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang selir kesayangan raja. Sun Tzu kemudian memberi penjelasan kepada mereka arah mana yang harus dituju saat dia memukul genderang.

Setelah semua selir mengerti, Sun Tzu langsung memberikan perintah kepada mereka agar menghadap ke kanan. Bukannya mengikuti instruksi, para selir justru tertawa. 

Menanggapi sikap para selir, Sun Tzu lantas berkata, "Perintah pertama yang tidak bisa direspon oleh pasukan adalah kesalahan komandan/jenderal. Oleh sebab itu komandan/jenderal harus kembali menjelaskan kepada pasukan," katanya.

Sun Tzu lantas kembali memberi penjelasan kepada para selir soal instruksi yang akan diberikannya dan apa yang harus dilakukan pasukan. Setelah itu, Sun Tzu langsung memerintahkan genderang dibunyikan untuk mensinyalkan pasukan menghadap ke kiri.

Namun, para selir kembali tak menaati perintah. Mereka justru kembali tertawa. "Apabila perintah kedua diberikan pasukan gagal merespon dengan tepat, maka ada dua kemungkinan. Pertama, perintah komandan/jenderal masih kurang jelas, atau kedua, pasukan tidak patuh," kata Sun Tzu.

Sun Tzu lantas memanggil pemimpin kelompok. Kepada Sun Tzu kedua pemimpin kelompok mengaku sudah memahami apa yang diinstruksikan. Sun Tzu lantas mengatakan kepada pemimpin kelompok agar mematuhi perintah yang diberikannya. Jika tidak, maka pemimpin kelompok telah melanggar hukum.

Setelah itu, Sun Tzu kembali memberi perintah untuk yang ketiga kalinya kepada para selir. Namun mereka kembali tertawa cekikikan. Tak banyak basa basi, Sun Tzu langsung meminta algojo untuk memenggal dua selir kesayangan raja itu.

Melihat dua selir kesayangannya akan dieksekusi, sang raja langsung mengirim utusan kepada Sun Tzu. Utusan itu membawa pesan sang raja telah puas atas kemampuan mengelola pasukan yang dimiliki Sun Tzu. Sang raja lantas meminta kedua selir kesayangannya tidak dieksekusi.

Namun, tanpa bermaksud tidak menaati perintah sang raja, Sun Tzu menolak permintaan itu. Menurutnya, sang raja telah memberikan mandat kepadanya untuk memimpin pasukan. Karenanya, Sun Tzu tak bisa menerima perintah yang bisa membuat lemah pasukan.

Sun Tzu lantas memerintahkan algojo untuk mengeksekusi dua selir tersebut. Setelah eksekusi dilakukan, seluruh selir mematuhi setiap instruksi yang diberikan oleh Sun Tzu. Pasukan pun dapat digerakkan sesuai komando tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Setelah itu, Sun Tzu lantas mengutus seorang utusan ke hadapan sang raja. Utusan itu menyampaikan pesan bahwa pasukan sudah terlatih dan memiliki kedisiplinan. Dia lantas meminta sang raja untuk melakukan inspeksi kepada pasukan.

Namun, sang raja enggan melakukan inspeksi dan hanya meminta Sun Tzu kembali ke tempat peristirahatannya.

"Raja ini hanya suka bermain kata-kata tanpa menindaklanjutinya dengan perbuatan," kata Sun Tzu menanggapi sikap sang raja.

Dalam sejarahnya, Sun Tzu yang hidup di masa kerajaan di China saling berperang itu menulis strategi dan taktik memenangkan perang dalam lembaran batang bambu yang terbagi menjadi 13 bab.

sumber : www.google.com

Quotes : 
#Jadikan seorang tokoh sebagai inspirasimu,  sebab jika seseorang memiliki tokoh inspirasi, dia akan semakin termotivasi untuk melampaui idolanya tersebut.

( silahkan komentar jika ada tokoh inspirasi anda yang ingin di publikasikan melalui blog ini )
nama andapun akan saya cantumkan :D