Tuesday, 23 December 2014

Mangaka Bergelar Dokter Spesialis Bedah

Halo…. Apa kabar sahabat Sunday Morning ?

Berbicara soal manga, tentunya hal pertama yang terpikirkan oleh kita adalah pemeran utama yang keren, jalan cerita menarik, serta nuansa Jepang yang begitu terasa.. Namun, tanpa disadari kita melupakan bahwa di balik semua itu tentunya ada seseorang yang sangat memegang peranan penting terhadap suksesnya sebuah manga.. 
Yess, pengarangnya…

Di Indonesia sendiri, industry manga mulai menunjukkan potensinya sendiri, masyarakat mulai tertarik mempelajarinya, di dukung dengan munculnya tempat-tempat yang menawarkan jasa mempelajari manga secara mendalam..

Kali ini Sunday Morning akan sedikit bercerita tentang salah satu mangaka yang sukses menembus pasar Jepang… Vivian Wijaya atau yang biasa di panggil Dr.Vee.

Bagaimana perjuangannya hingga bisa sampai seperti sekarang ? Berikut sedikit cerita tentang seorang mangaka bergelar dokter spesialis bedah.

 

Lahir April 1978 di Tokyo, Jepang Vivian kecil masuk Suginami preschool di Tokyo sampai usia 6 tahun. Ayahnya bekerja sebagai obsterician / ginekolog di Tokyo sampai tahun 1984, kemudian seluruh keluarganya pindah ke Jakarta, Indonesia.

Vivian masuk sekolah dasar swasta Katolik St Theresia dari tahun 1984 hingga tahun 1990, dan kemudian terus belajar di SMP St. Theresia. Selama bertahun-tahun dia tinggal di Indonesia, Vivian telah memenangkan banyak penghargaan dalam kompetisi seni anak nasional dan internasional serta sering mewakili sekolahnya untuk mengikuti lomba seni.

Setelah lulus dari SMP St.Theresia pada tahun 1993, wanita yang mengaku menyukai masakan Jepang dan Perancis ini melanjutkan studinya ke luar negeri di Peddie School, Hightstown, NJ, USA (1993-1994), Concord College,Inggris (1994-1997), dan belajar kedokteran di universitas, The royal College of Surgeons, Irlandia (1998-2003).

Setelah menyelesaikan magang medis dan bedah di berbagai tempat di Irlandia, Vivian mendaftar di the Basic Surgical Scheme dari RCSI sebagai bagian dari pelatihan untuk menjadi ahli bedah.

Vivian kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan satu tahun dalam pelatihan, ia mendengar tentang pencipta manga Jepang Chakapoko atau Ibu Machiko Maeyama membuka sekolah dan mengajarkan cara membuat manga di Jakarta. Merasa frustasi akan karir kedokteran yang dipilihnya, dan sadar bahwa sudah menjadi impian seumur hidupnya untuk menjadi seorang penulis manga, Vivian mendaftarkan dirinya di kursus manga tersebut. Tentu keputusan yang dipilihnya bukanlah tanpa hambatan,

rasa takut dalam hal finansial, kehilangan respek, dan kemampuan diri.” Ujarnya

Pada awalnya Vivian tidak berharap untuk bisa menjadi profesional publisher, tapi ibu Maeyama melihat bakatnya dan merekomendasikan karyanya diterbitkan dalam majalah manga pertama asli Indonesia.

Sosok Maeyama sensei sangat berperan dalam perkembangan karirnya, selain juga Paulo Coelho, Hironobu Kaneko sensei, dan Kenjiro Hata sensei memiliki peran masing – masing.

Menyukai manga sejak umur 2 tahun, ternyata Vivian memiliki beberapa hobi lain diantaranya travelling, backpacking, scuba diving, dancing, public speaking, belajar bahasa baru, menulis, dan mengajar.

Manga sendiri memiliki arti tersendiri bagi penggemar Fujiko Fujio, Akira Toriyama, Osamu Tezuka ini,

Manga adalah media yang sangat kuat untuk menyampaikan pesan ke massa. Murah direproduksi, enak dilihat, gampang dicerna, kecepatan bacanya bisa diatur pembacanya, mau bolak balik ke adegan favorit juga gampang.”ujarnya.

Debut pertama komik Vivian berjudul Prambanana, komedi fantasi bercerita tentang parodi legenda kompleks candi Prambanan. Bab 1 dan 2 pertama kali diterbitkan di majalah Splash pada tahun 2006, 2007. Kemudian, PT Elex Media Komputindo menerbitkan Prambanana sebagai buku lengkap pada tahun 2008.

Vivian terus belajar manga secara mendalam di Nippon Designers School di Shibuya, Tokyo, Jepang 2007-2009. Vivian menerima nilai tertinggi akademiknya di 3 semester berturut-turut selama studinya di sana, dan mendapat the Principal’s award, penghargaan paling bergengsi yang diberikan kepada lulusan dengan nilai tertinggi dari semua departemen. Vivian menerima beasiswa penuh dari sekolah untuk program pascasarjana.

Selama program studi pascasarjana, Vivian mulai magang dan bekerja sebagai asisten manga di bawah penulis Kenjiro Hata, pencipta manga seri terlaris Hayate the combat butler. Vivian kembali ke Indonesia setelah 1 tahun 6 bulan magang dan memulai debutnya dengan Komik manga berjudul Kokkyonaki Gakuen (Campus Dwellers Without Borders) karya Vivian Wijaya dipublikasikan oleh Shogakukan Inc. melalui situs Club Sunday.

Bercerita tentang kehidupan seorang pelajar Jepang di sekolah internasional di Inggris, manga tersebut merupakan manga Jepang pertama yang dibuat oleh penulis wanita Indonesia. Shogakukan juga mengatakan bahwa karya tersebut adalah komik pertama kali yang dipublikasikan secara beruntun, dalam bahasa Jepang, Inggris, dan Indonesia. Judul bahasa Inggris untuk manga ini: Campus Dwellers Without Borders, judul Indonesia nya adalah: siswa-siswi Tanpa Perbatasan.

Berbicara soal genre manga Vivian tidak hanya terfokus pada satu genre,

Berbagai genre saya buat, namun belakangan ini saya suka membuat cerita yang punya pesan inspiratif, supaya pembaca saya jadi semangat setelah baca.” katanya

Saat ini Vivian memiliki serangkaian komik bulanan yang diterbitkan oleh surat kabar Shinano Mainichi di Nagano, Jepang. Dia juga menulis satu scene manga untuk Shonen Sunday. Hmm, dari manakah inspirasinya ?

Dari mana-mana, interaksi saya sehari-hari dengan orang-orang sekitar saya, buku yang saya baca, film yang saya tonton, artikel internet, dll.” Terangnya 
Ketika kita kehilangan inspirasi, biasanya ini terjadi kalau terlalu focus pada detil. Hal yang terbaik di saat seperti ini adalah jauhkan dirimu dari topik ini, lalu lihat gambar besarnya. Kalau masih kesusahan, tinggalkan dulu topik yang sudah jadi benang kusut, dan lakukan hal-hal lain, sambil mencari topik baru. Sering kali solusinya ada di tempat yang tak terduga. Satu lagi, jangan terlalu banyak baca karya orang lain dan jadi paranoid. Alami hidup apa adanya, inspirasi itu ada tak terhingga di sekeliling kita.” Sambungnya

Dr.Vee telah berbicara tentang manga dan hal - hal terkait komik untuk ribuan penonton, terpilih sebagai juri untuk beberapa kontes komik dan berbagi panggung dengan tokoh-tokoh kontemporer penting dalam adegan budaya J-pop seperti Danny Choo. Pada tahun 2014 Vivian telah dipilih sebagai pengawas untuk program pertukaran budaya kaum muda, JENESYS 2.0 untuk mahasiswa Indonesia, yang disponsori oleh ASEAN dan Kementrian Luar Negeri Jepang. Dr.Vee sekarang tengah menjalankan pusat pendidikan internasional untuk teknik manga, serta penyedia layanan pembelajaran manga, Dr.Vee Mangaka Club.

Pada tahun 2012, Dr.Vee membuka kelas belajar manga yang di beri nama Dr.Vee Mangaka Club ( DMC ), dengan tujuan mendidik komikus untuk mengikuti standar tertinggi di masa sekarang, Dengan melihat manga sekarang banyak dikenal di pasar internasional, tapi teknik dan standar tinggi dari Jepang kurang dipahami masyarakat umum.

Sebagai seorang pengajar, tentunya menerapkan standar tinggi Jepang dan menemukan pola pengajaran yang pas bagi masing – masing member ( sebutan bagi mereka yang belajar di DMC ) bukanlah hal mudah,

Members saya rata-rata sangat suka dengan manga dan yang berambisi menjadi profesional memang belajar dengan sungguh-sungguh, jadi saya juga bersemangat untuk memberi mereka bimbingan. Dulunya saya punya kuota untuk beasiswa, tapi sepertinya sistem ini kurang baik, karena murid yang membiayai sendiri yang justru punya semangat baja. Yang paling membuat saya senang kalau murid mencapai suatu standar lebih tinggi dari sebelumnya berkat usaha.” Ujarnya

Tak lupa Dr.Vee pun sempat mengomentari perkembangan komik di Indonesia yang menurut saya cukup baik perkembangannya..

Sekarang ini ada banyak kegiatan baru sekisar komik, dan kerja sama dengan penerbit luar negeri pun makin bertambah. Ini hal yang baik bagi pencipta komik karena peluang bertambah. Sedangkan perkembangan komik Indonesia untuk mencapai suatu industri hanya bisa tercapai kalau ekonomi Negara kita bertambah makmur. Sekarang ini perkomikan Indonesia belum jadi industri.” Terangnya

Menurutnya, perbedaan komik Jepang dan buatan Indonesia terlihat dari cerita yang mengarah pada segi pandang orang Indonesia. Tekniknya bisa diambil dari Jepang, tapi isinya pasti tetap merepresentasikan cara pikir pengarangnya.

Terakhir, tidak lupa Dr.Vee menyampaikan sedikit pesan pada member DMC,

Kalau punya impian, fokus, dan pikirkan apapun cara untuk mencapai impian itu. Kalau bingung, mundur satu langkah, lihat gambar besarnya, lalu maju lagi. Pasti impian apapun bisa tercapai”.

No matter what happens in life stay always faithful to your dreams”. Tutup mangaka yang sedang mempersiapkan proyek manga internasional, yang akan diumumkan pada tahun 2015.


Created by : M Mahmud
Special Thanks : Vivian Wijaya